Aku Terpaksa Dinikahinya dan Akhirnya Aku Menyesal

Aku hanyalah seorang wanita yang terperangkap dalam pernikahan yang kusial-siakan. Terpaksa aku menikahinya, dipaksa oleh otoritas orang tua yang tidak mempedulikan kebahagiaanku. Ketika aku berjalan ke pelaminan, hatiku dipenuhi oleh rasa benci yang tak pernah pudar. Aku menyerahkan diriku, tetapi tidak hatiku.

Meskipun sah menjadi seorang istri, aku tak pernah merasakan kehangatan cinta yang sejati. Setiap hari, aku menghabiskan waktu seolah-olah menjalankan peran yang tak nyata. Aku menyesali pilihanku, tapi aku terjebak dalam jerat keputusan yang telah dibuat oleh orang lain.

Hidupku dihabiskan dalam kesedihan yang tak terucapkan. Aku melakukan segala sesuatu karena aku tak punya pilihan lain. Bahkan ketika aku merasa ingin pergi, aku terikat oleh ketergantungan finansial dan kekosongan dukungan.

Setelah pernikahan, aku berperilaku seperti seorang ratu yang menuntut segalanya. Aku menyalahkan suamiku atas setiap ketidaknyamanan dan kekecewaan. Setiap keluhan kecil menjadi pemicu kemarahan yang tak terkendali. Aku mencoba menutupi kekosongan hatiku dengan kekuasaan semu yang aku miliki di rumah.

Ketika aku menolak untuk memiliki anak, aku mengalami penderitaan yang lebih besar. Aku menemukan diriku hamil dengan sepasang anak kembar, sebuah beban yang aku tidak pernah inginkan. Kesakitan saat melahirkan menjadi pengingat betapa aku merasa terperangkap dalam keputusan yang salah.

Aku memaksa suamiku untuk melakukan vasektomi, mengancam akan meninggalkannya bersama anak-anak kita. Aku menempatkan tanggung jawab atas kebahagiaanku padanya, tanpa mempertimbangkan keinginannya atau kebutuhannya sendiri.

Hari-hari berlalu tanpa makna. Aku hidup dalam ketidakbahagiaan yang konstan, tetapi tak pernah benar-benar menyadarinya sampai suamiku pergi. Ketika kecelakaan merenggutnya dari dunia ini, aku terdiam dalam kesedihan yang tak terucapkan.

Di antara masa berkabung, aku menemukan surat dari suamiku. Surat yang meminta maaf dan menunjukkan betapa besarnya cintanya padaku dan anak-anak kita. Aku menangis karena kesalahan yang tak termaafkan, karena waktu yang terbuang sia-sia, dan karena kehilangan yang tak tergantikan.

Tanpa suamiku, aku terombang-ambing dalam kesendirian yang menyayat hati. Aku merindukan suara dengkuran yang dulu mengisi malamku, dan kehadiran yang memberi arti pada setiap hari. Aku menyesali kesempatan yang terlewatkan untuk mencintai dan dihargai, untuk menunjukkan rasa terima kasih atas segala pengorbanan yang telah dilakukan.

Kehilangan suamiku meninggalkan lubang yang tak terisi dalam hidupku. Aku merasa kehilangan dan hampa, dan tak tahu bagaimana melanjutkan hidup tanpanya. Setiap hari menjadi sebuah pertempuran dengan kesepian dan penyesalan.

Dan ketika akhirnya aku berdiri di hadapan makamnya, aku tersedu dalam kesedihan yang tak terlukiskan. Aku menyesali setiap saat yang telah berlalu tanpa ungkapan cinta yang layak. Dan aku berharap, dalam kehidupan berikutnya, aku dapat menemukan cinta yang sejati dan memberikannya tanpa batas, seperti yang telah dia lakukan padaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Paling Sial, Maafkan Aku Sayang😭😭😭

Sengsara Membawa Nikmat - Bagian 1: Awal Penderitaan